Dulu sebelum menikah, entah rasa malas atau mungkin ego seseorang yang masih sendirian, kerap muncul ketidaksukaan pada anak-anak. Ada rasa phobia yang membuat diri enggan bermain bersama mereka. Terdoktrin di kepala ini bahwa anak-anak adalah sumber masalah, cengeng, manja, nakal, bandel dan segudang keluhan lainnya. Makanya setiap ada saudara atau tamu yang datang dengan membawa anak-anak mereka, mengurung diri di kamar adalah salah satu pilihan terbaik dibanding menghadapi ulah anak-anak tersebut.
Sempat terpikir juga, apa jadinya jika kelak sudah berkeluarga dan punya anak, apa sanggup? Jangan-jangan nanti anaknya jadi perkedel goreng, alias jadi pelampiasan emosi. Tapi tak perlu pusing-pusinglah, jalani saja.
Setelah menikah, perasaan-perasaan itu masih menghantui, bahkan sampai kehamilan terjadi. Ketakutan itu semakin membuncah ketika suami bilang ingin punya banyak anak, tambah merindinglah bulu kuduk ini. Terbayang betapa repotnya mengurus anak-anak dan membereskan rumah yang seperti kapal pecah. Kembali timbul pertanyaan, sanggupkah?
Setahun setelah menikah, anak pertama pun akhirnya lahir. Tubuh mungilnya, tatapan polosnya, senyumnya yang meluruhkan jiwa, seakan membuat diri ini lupa akan ketakutan-ketakutan yang dulu menghantui. Apa iya anak secantik ini mau dibikin perkedel goreng. Sadis amat.
Waktu pun tak terasa berlalu, 1.5 tahun sejak kelahiran anak pertama, anak kedua yang tak kalah lucunya pun kembali mengisi hari-hari indah keluarga kami. Kali ini laki-laki. Alhamdulillah, semakin terasa lengkaplah. Tak sabar rasanya kembali menyaksikan keajaiban-keajaiban kecil dari fase pertumbuhan manusia yang berjudul anak-anak. Anak-anak.. adalah hiburan bagi orangtua tatkala kejenuhan melanda. Sarana memupuk kasih sayang dan melatih kesabaran. Tali pengikat hubungan cinta pasutri yang paling erat dalam menghadapi badai konflik keluarga. Sebuah keajaiban dan anugerah yang membahagiakan.
Tak sabar rasanya hati menunggu yang ketiga lahir ke dunia…

Recent Comments