Kata orang, menyibukkan diri dengan kegiatan bisa menghilangkan kejenuhan. Tapi mengapa terlalu banyak aktivitas malah memperparah keadaan? Kesibukan sebagai seorang umahat seringkali mengikis dinding-dinding kesabaran, emosi kian melonjak dan tak terkendali, yang pada akhirnya berimbas pada anak-anak dan suami. Melihat susu berceceran saja, marahnya bisa seharian. Melihat mainan acak-acakan, ngomelnya habis-habisan. Apa benar ini ciri-ciri kalau sebenarnya rasa bosan itu sudah mulai menerpa…

Siapa sih yang tidak ingin jadi figur yang sempurna. Menjadi seorang ibu yang senantiasa menjadi panutan anak-anak, tempat mereka bermanja dan merengek-rengek, figur yang penuh kasih sayang dan gudang kebaikan. Ah, betapa indahnya. Tapi memang diri ini sepertinya masih jauh dari impian itu, buktinya sampai sekarang, letupan-letupan keegoisan seorang wanita masih saja mengalahkan naluri keibuan. Masih saja ambisi-ambisi kesendirian mengalahkan tatapan-tatapan mungil yang berharap untuk sekedar ditemani ngobrol oleh seorang yang dikasihi. Tapi manusia memang sewajarnya begitu, penuh letupan dan fluktuatif. Meskipun sebenarnya dalam diri ini selalu ada usaha untuk memperbaiki keadaan, biarpun sedikit ^_^.

Entah ini keegoisan diri atau memang kejenuhan yang sudah mencapai titik parahnya, sepertinya tak ada orang yang benar-benar mengerti tentang keadaan ini. Padahal hati ini sudah meluap-luap karena tak sanggup menahan kebosanan dengan rutinitas sehari-hari. Dada ini terasa sempit dan sesak dipenuhi segudang permasalahan rumah tangga dan tetek bengeknya. Ingin rasanya sesekali dimanjakan dengan makan enak di suatu tempat, atau berkutat dengan buku-buku di sebuah toko buku yang luas dan lengkap, merangsang semangat kembali untuk berkreativitas. Atau mungkin menghirup udara segar di pegunungan dan merasakan desiran angin yang menerpa di pinggir pantai. Tapi dengan kondisi yang sekarang, dengan 2 anak balita dan seorang calon bayi, sepertinya mustahil (kecuali dengan modal nekat).

Memang seharusnya sebagai individu, kita dituntut untuk mandiri, tidak tergantung orang lain untuk sekedar me-refresh pikiran kita. Tapi jika kita hanya menunggu orang lain membantu kita, mimpi kali yah. Kebanyakan orang memang hanya memikirkan dirinya sendiri. Seakan-akan orang lain tidak memiliki hak yang sama untuk merasakan kesenangan. Padahal pada setiap manusia hidup itu, selalu ada kebutuhan akan keseimbangan, balancing. Ketika kejenuhan tiba, maka saat itu-lah hiburan menghampiri.

Maka jadilah, orang-orang yang penuh beban dan tertekan, yang tak sanggup membeli kesenangan dan tak ada orang yang mau memberikan kesenangan itu, menikmati kesendirian dan kejenuhannya di dalam kesibukannya yang tak ada habis-habisnya. Seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, seperti sekarang.

Sedangkan orang-orang, begitu enjoy dengan kesibukan mereka untuk menyenangkan diri mereka sendiri. Mengeksplorasi dunia lain tanpa merasa bahwa sebenarnya banyak beban yang harusnya mereka bawa di atas pundak mereka, karena mereka sendiri tidak tahu bahwa sebenarnya beban-beban itu lebih membutuhkan kesenangan dibanding mereka sendiri.

Yah sudahlah, kita cukupkan keluhan kita hari ini. Setidaknya kegiatan berkeluhkesah juga lumayan mengangkat beban hati, meskipun semu (alias cuma beberapa menit aja terasa ringan). Jika cuma berbicara, maka tak akan ada solusi. So what? Modal nekat aja yuk…